Malam Natal, Malam Penuh Kasih

23 Desember 2006

marrychristmast001Sebentar lagi malam natal, malam yang selalu penuh dengan taburan cahaya lilin, dan pernak-pernik natal seperti Santo Klauss, The Christmas Angle, dan rusa kutub, bintang timur, dan masih banyak lagi.

Entah kenapa tiba-tiba pikiranku melayang pada beberapa puluh tahun silam. Saat aku masih kelas 5 SD, salahsatu guru sekolah minggu di gereja tempatku menghabiskan masa kecil, menunjuk aku untuk bermain drama natal.

Aaaaah… betapa senang aku ketika itu. Aku diminta berperan menjadi salah satu dari tiga orang majus dari timur yang datang mencari sebuah tempat dimana Jesus dilahirkan.

Ayah yang biasa aku panggil “bapak”, tersenyum saat menonton aku berlatih drama sebagai salah satu orang majus itu. Pukul 16.00 setiap hari, pada dua minggu menjelang natal, tanpa henti, kami anak-anak sekolah minggu selalu giat berlatih… demi sebuah malam, malam yang penuh dengan Kasih Allah Sang pencipta Alam Semesta.

Saat pentas di malam natal pun tiba. Semua orang menonton pentas drama natal kami dengan segala perasaan yang ada di dalam diri masing-masing. Semua bertepuk tangan meriah menyambut tingkah konyol dan kocak kami, terlebih lagi jika kami salah mengucapkan dialog dari yang seharusnya kami ucapkan.

Terkadang kami tidak menyadari kalau kami melakukan kesalahan-kesalahan ini.  Oh iya… salahsatu penonton itu adalah Bapak ku, kendati bapak seorang Muslim, tetapi Bapak tetap menunjukkan kehadirannya ditengah-tengah kami anak-anaknya yang merayakan natal bersama.

Seminggu sebelum perayaan natal. Biasanya bapak membantu mama yang selalu rajin membuat berbagai macam kue natal. Mulai dari kue kering hingga kue basah seperti bolu dan tart. Ini dilakukan bapak sepulangnya dari kantor yang memang tidak jauh dari rumah tempat kami tinggal.

Begitu tiba di rumah, bapak langsung mengganti seragam dinas Angkatan Udara kebanggaannya dengan baju kaos putih buatan Cina bermerk “Swan”. Banyak hal yang dikerjakan bapak, mulai dari mengocok telur dan mencampur terigu, yang kemudian menjadi adonan dan dimasukan kedalam loyang cetakan. Hal sama juga biasa dilakukan mama,  saat bapak merayakan Idul Fitri. Mama selalu memasak opor dan membuat ketupat lebaran, serta berbagai macam masakan khas lebaran lainnya.

Yah.. begitulah, Natal dan Idul Fitri, selalu kami rayakan secara bergantian di rumah kami, sebuah kenangan akan kebersamaan yang indah, bahkan lebih indah dari apapun. Apalagi kami tinggal di Bali, yang masyarakatnya selalu menyambut baik setiap pendatang, tanpa pernah melihat dan memandang seseorang itu dari etnik apa atau suku mana, apalagi agama.

Bagi aku, Orang Bali adalah etnik yang sangat pluralis, mereka selalu menganggap semua agama adalah adalah baik dan semua orang adalah saudara. Sejak kecil aku selalu mendengar Orang Bali menyebut warga muslim dengan istilah Nyama Selam dan menyebut warga Kristen dengan istilah Nyama Kresten. Nyama dalam bahasa Bali artinya saudara.

Mungkin tidak banyak dari kita yang mengerti jika kata saudara itu berasal dari bahasa sansekerta yakni “sa” dan “udara”. “sa” berarti satu dan “udara” berarti perut. Jadi saudara itu berarti satu perut, satu kandung yakni “Ibu Pertiwi” yang adalah juga ibu kita. Ibu yang melindungi kita dari bahaya, Ibu yang selalu mengerti akan kita. Ibu yang tahu dan mengerti kapan kita lapar dan kapan kita haus, dan Ibu yang tahu segala kebutuhan kita tanpa pernah kita sadari.

Yaa.. saudara, adalah sebuah kata yang arif dan bijak, yang digunakan Orang Bali untuk merangkul setiap perbedaan mendasar yang ada. Ibarat keluarga, setiap anak selalu punya sifat dan watak yang berbeda. Bahkan pada anak kembar identik sekalipun, pasti punya sifat dan watak yang berbeda satu sama lain, toh juga mereka tetap disebut bersaudara.

Selama puluhan bahkan ratusan tahun, Bali yang damai, Bali yang bersahabat, Bali yang selalu menganggap setiap orang adalah saudara. membuat Bali selalu dicintai semua orang dari mana pun. Di malam natal ini, Aku berharap agar kami, yakni aku dan saudara-saudara ku semua bisa berkumpul lagi di rumah ibu kami. Ibu yang tinggal sendiri, karena bapak sudah 10 tahun lalu meninggal.

Tetapi entah kenapa pada beberapa jam menjelang malam natal ini, aku digelayuti perasaan cemas. Cemas karena aksi teror masih terus menghantui kelompok-kelompok minornitas. Entah karena setan apa, pagi ini, tepat beberapa jam sebelum malam natal, aku mendapat kiriman pesan singkat di telepon genggamku, disana, DPS rekan kerja di perusahaan tempat kami bekerja, berkata bahwa dia sedang liputan sebuah gereja kristen di Padangsambian-Denpasar, entah apa namanya, yang keberadaannya tidak dikehendaki masyarakat sekitar karena tidak memiliki ijin. Masyarakat marah dan ingin agar keberadaan gereja ini ditiadakan.

Sedikit resah memang mendengarnya, ini sama halnya dengan penutupan beberapa gereja yang dilakukan sekelompok militan muslim di Jawa Barat dengan alasan anti-pemurtadan.

Sama halnya juga dengan saat gempa tsunami di Aceh dan Gempa Jogja-Klaten, ada rumor yang dihembuskan sekelompok orang yang mengaku dirinya sebagai militan muslim, yang tidak senang dengan kepeloporan orang-orang yang berasal dari kelompok yang berbeda dengan yang mereka anut. Mereka mewanti-wanti setiap pengungsi untuk tidak menerima bantuan dari kelompok yang berbeda agama dan aliran.

Kebohongan politik macam apalagi yang dihembuskan oleh kelompok yang selalu merasa paling Indonesia dan seolah-olah negara Indonesia ini hanya didirikan oleh salah satu kelompok saja. Sebegitu parahkan sistem kerukunan antar umat beragama di negeri yang katanya Berbhineka Tunggal Ika?

Pagi ini, dengan tetap merasa resah, aku hanya berharap agar malam nanti, saat malam natal pertama, tetap menjadi malam kasih. Tetap menjadi malam yang aman dan damai agar semua orang bisa beribadah menyambut peringatan kelahiran Juru Damai, Jesus Kristus.

Aku juga berharap agar Natal ini membawa berkat yang berlimpah bagi setiap orang yang menyambut perdamaian di hati mereka masing-masing.

Semoga Kebaikan datang dari segala penjuru Mata Angin,

Salam Damai Natal 2006,

Entry Filed under: catatan ku. .

2 Comments Add your own

  • 1. babegue  |  24 Desember 2008 at 5:09 AM

    selamat natal juga , smoga kaum minoritas tdk selalu ditekan oleh mayoritas di Indonesia.

    Smoga smua bisa mengerti dari makna Bhineka Tunggal Ika

  • 2. gentry amalo  |  24 Desember 2008 at 10:37 AM

    Selamat Natal juga, saya juga berharap agar tidak ada lagi rasisme minoritas mayoritas di negeri ini… salam damai.. :)

Leave a Comment

hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


 

Desember 2006
M S S R K J S
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Tulisan Terakhir

Arsip

Peta Pengunjung

Blogger

Jejaring

media

organisasi

travelling

statistik

Spam Blocked